Senin, 16 Desember 2019

Menjadi Petani Berawal Dari Secangkir Kopi


Di iringi hujan gerimis di Senin malam tanggal 16 Desember 2019, ketua perempuan tani HKTI Gresik terus blusukan untuk mencari potensi pertanian yang ada di Kabupaten Gresik. Kali ini diskusi untuk mengembangkan potensi pertanian bersama anak muda lulusan sarjana pertanian Universitas ternama di Malang, dia adalah Mas Ferry, owner Kumah Kopi sekaligus trainer untuk anak - anak muda yang ingin mengawali bisnis di dunia per kopian. Lajang 22 tahun ini dengan antusias menceritakan perjalanan bisnisnya, bisnis kedai kopi ini sebenarnya sudah dimulai oleh Mas Ferry sejak mahasiswa, banyak teman - teman kuliahnya dan dosennya terlibat langsung dalam bisnis kedai kopi, sehingga tidak heran saat berdiskusi dengan mas ferry layaknya sedang menonton film filosofi kopi.


Saat ditanya oleh dr. Nila tentang potensi apa yang bisa dikembangkan di Kabupaten Gresik terkait dengan maraknya warung kopi, mas ferry menjelaskan secara detail peluang bisnis warung kopi yang ada di Gresik. Sedikitnya kedai kopi di Gresik ini sekitar 10 ribu an, dan dalam setiap workshop maupun diskusi dengan teman - teman pemula yang ingin berbisnis kedai kopi, saya selalu menyampaikan akan pentingnya mengkonsumsi kopi organik atau kopi alami. Karena saya tahu betul perbedaan antara kopi instan dengan kopi organik, jelentrehnya.

Kopi organik atau kopi alami yang kita racik sendiri bukan hanya bagus untuk kesehatan, tetapi juga bisa menambah pendapatan para petani kopi. Kita bisa membayangkan, kalau kedai kopi di Gresik ini sekitar 10 ribuan dan sehari 1 kedai minimal membutuhkan 2 Kg kopi organik, maka di Gresik ini seharinya membutuhkan sekitar 20 ton kopi.jelasnya.

Tapi sayangnya, di Gresik belum bisa kita menanam kebun kopi. Kopi yang di datangkan di Gresik berasal dari daerah daerah di sekitaran Jawa Timur dan bahkan dari luar Jawa Timur, harapan kedepannya, kita di sini bisa memproduksi sendiri kopi organik ini meskipun bahan bakunya berasal dari luar Gresik, ujar mas ferry.

Melihat peluang usaha ini, perempuan tani HKTI Gresik berencana segera akan mengadakan rapat pimpinan dewan pimpinan kabupaten perempuan tani HKTI Gresik di bulan Desember. Tujuannya tidak lain adalah untuk membuat pemetaan potensi pertanian atau yang berhubungan pertanian yang bisa kita kembangkan untuk menuju kemajuan perekonomian bagi para petani. Saya sangat senang dan sangat bangga bisa bertemu dan berdiskusi dengan mas ferry, di usia yang sangat muda dia sudah bisa berkarya dan bahkan bisa membantu anak anak muda lainnya untuk mandiri dalam perekonomian. Potensi yang seperti ini yang harus kita dorong dan kita dampingi untuk bisa bersaing di pasar nasional bahkan internasional, harap dr. Nila Hapsari Singgih.

0 comments:

Posting Komentar