Jumat, 29 November 2019

Politik Tangga Kemuliyaan


Banyak yang tidak sependapat sepertinya dengan pernyataan tersebut, karena memang gambaran politik yang selama ini  disuguhkan kepada publik, sama sekali tidak memberi gambaran yang positif, malah sebaliknya,  bahwa politik itu jahat, politik itu licik, politik itu curang, politik itu hanya semata-mata untuk meraih kekuasaan dan uang dengan cara apapun, hingga ada stigma kuat di masyarakat, bahwa politik itu mengasingkan manusia dari sifat kemanusiaannya, merendahkan derajat manusia dengan sekedar ukuran materi, malah hak konstitusionalnyapun tercerabut karena politik transaksional, dimana menjual suara berarti menjual kedaulatan sekaligus menjual negara. Padahal  yang semustinya politik itu menjungjung tinggi moralitas dan etika kehidupan, bahkan dalam politik itu sendiri terkandung dimensi yang begitu sakral karena dapat menjadi wahana untuk menyampaikan berita langit, cahaya kebenaran untuk bekal di alam keabadian, seperti keimanan kepada Tuhan yang maha esa serta mewujudkan kehidupan yan adil dan beradab.  Namun untuk membalikan arah jarum tentu tidaklah mudah, dari phenomena politik yang merendahkan manusia kembali kearah yang memulyakan manusia. Untuk itulah kiranya kita ini harus kembali memberi landasan moral yang kuat, atau sekurang-kurangnya bisa membangun suatu cara pandang bahwa negara kita ini menempatkan rakyatnya pada derajat kemulyaan yang tinggi, yakni pemegang kedaulatan negara. Kehadiran negara seperti yang telah diatur dalam konstitusinya itu, tiada lain, karena memang untuk mewujudkan tujuan hidup manusia --setiap kita-kita ini sebagai warganya-- ingin agar selalu berada dalam kemulyaan. Karena politik merupakan atmosfir kehidupan kita dalam bernegara, maka politik hrs nenjadi tangga kemulyaan bagi warganya, bagi masyarakat bangsa kita. (azs 29112019)

0 comments:

Posting Komentar