Selasa, 09 Januari 2018

Peran Pendidikan Dalam Menentukan Keberhasilan

PERAN PENDIDIKAN DALAM  MENENTUKAN 
KEBERHASILAN  DAN  KESUKSESAN  SEORANG  ANAK
Image result for gambar pelajar

Anak merupakan aset dunia dan akhirat bagi orang tua dan keluarganya, setiap orang tua selalu mengidam – idamkan anak yang pandai, pintar, cerdas, religious, dan tentunya menjadi anak yang sehat dan sukses. Untuk mencapai itu semua, ada peranan yang sangat penting, yaitu pendidikan. Pendidikan yang diperoleh di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan sosialnya akan mempengaruhi karakter seorang anak dalam tumbuh dan berkembang sampai menjadi orang dewasa. Pendidikan adalah salah satu hal yang sangat penting bagi kehidupan seseorang, tidak hanya itu pendidikan juga berperan besar bagi kemajuan dan perkembangan sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang maju dan besar tentu ditunjang dengan kualitas pendidikan yang memadai bagi warganya. Di Indonesia sendiri, pemerintah melalui beragam program berusaha mendorong kemajuan pendidikan, dengan semangat untuk menghasilkan individu terampil yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur. Demikian bahkan tercantum dalam amanat pembukaan UUD 1945, ini jelas tentu bahwa pendidikan adalah satu hal yang menjadi tanggung jawab negara dan masyarakat secara luas.

Melalui dua Kementeriannya (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggarap Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk menangani Pendidikan Tinggi, Pengembangan Riset serta Teknologi di seluruh wilayah NKRI), terus menerus mengembangkan beragam program, dan mengeluarkan anggaran untuk terus mengembangkan pendidikan serta menghasilkan produk pendidikan yang unggul di segala bidang.
Ironisnya, pendidikan di Indonesia masih belum mampu untuk menampung banyak hal yang bersifat idealis serta fundamental. Ini terbukti dengan masih ditemukannya beragam temuan yang acap kali menjadikan wajah pendidikan Indonesia kian murung, mulai dari rendah dan minimnya fasilitas pendidikan berikut dengan sumber daya manusia pendukungnya yang banyak ditemukan di daerah perbatasan serta terpencil. Masalah degradasi moral baik pendidik maupun siswa, hingga yang terbaru adalah isu rasa takut pendidik untuk mendisiplinkan siswa karena enggan berurusan dengan pihak orang tua yang akan membawanya ke ranah pidana. Beragam sumber menyebutkan, bahwa masih jauhnya pendidikan dari hasil dan tujuan pendidikan itu sendiri tidak hanya terjadi di Indonesia, beberapa negara pun mengalami hal serupa.

Hampir semua orang tua menginginkan anaknya menjadi sukses, para orangtua yang menginginkan anak mereka sukses tidak segan-segan mengeluarkan biaya yang banyak agar anaknya mendapatkan pendidikan yang tinggi, sebuah sekolah atau universitas dengan akreditas baik dan fasilitas yang memadai (meskipun mereka terdiri dari latar belakang yang tidak semuanya orang kaya). Tapi mereka rela bekerja keras, banting tulang siang dan malam demi kesuksesan dan masa depan anaknya.

Tapi, realita pahit yang kita saksikan akhir-akhir ini benar-benar sangat miris, melihat banyaknya sarjana yang pengangguran dan masih menggantungkan hidup kepada orangtuanya, sarjana yang bekerja seadanya hanya untuk mendapatkan uang, sarjana yang bekerja tidak pada bidangnya hanya agar bisa makan. 

Melihat realita diatas, di negara kita saat ini ijazah bukan lagi sebagai faktor utama jaminan kehidupan sukses, tetapi merupakan faktor penting dalam meniti dan mengawali karir. Sebenarnya banyak orang sukses yang terbentuk oleh pengalaman yang mereka dapatkan, keadaan susah menjadikan mereka pribadi yang lebih tangguh dan bekerja keras sehingga bisa menghargai arti kesuksesan dalam bentuk fisik (uang). Banyak orang sukses yang bahkan tidak pernah makan bangku sekolahan, orang sukses yang hanya tamat SD atau dengan level pendidikan rendah lainnya. Mereka sukses rata – rata karena mereka tidak pernah menolak kesempatan sekecil apapun, pekerjaan dengan gaji berapapun. Tapi, para sarjana? Mereka memiliki kriteria untuk mencari pekerjaan, dengan standar gaji mereka sendiri (meskipun mungkin belum berpengalaman), sebagian dari mereka menolak pekerjaan yang ada di depan mata dengan alasan gaji kecil dan lain-lain, tapi ada juga beberapa yang menerima. 

Padahal sebenarnya di sinilah letak proses untuk mencapai ke suksesan itu, jangan pernah melewatkan kesempatan sekecil apapun karena pengalaman akan membuatmu menjadi besar. Seorang tukang becak yang memiliki banyak pengalaman akan lebih diterima  dibandingkan sopir taksi yang tidak tahu rute perjalanan (begitulah bahasa mudahnya). Jadi, jangan pernah menyepelekan segala sesuatu yang nampak kecil karena mungkin saja dia akan membawa sesuatu yang besar di kemudian hari, kerja keras akan menaikkan derajatmu meskipun tidak dengan cara instan.


Maka apa yang harus kita lakukan??? Kita harus membentuk diri kita masing-masing. Lalu apa gunanya pendidikan jika orang yang berpendidikan tinggi akhirnya tidak menjadi apa-apa?Di manakah si pendidikan itu? Dan bagaimana perannya dalam membentuk masa depan seseorang? Sebenarnya diri anda sendirilah yang membentuk karakter anda, karena pendidikan adalah sebagai media untuk mengasah kemampuan anda baik di bidang seni, sastra, politik, ekonomi dan sebagainya. Pendidikan akan membuka wawasan anda dan ketika itu anda akan berpikir dan menilai sendiri apa pentingnya pendidikan.

Sebuah contoh adalah Bill Gates, dia  sukses bukan karena pendidikan (formal) yang menyandang gelar, juga Purdi E Chandra mendirikan Primagama padahal belum lulus kuliah. Tetapi harap diingat bahwa hanya satu diantara seribu atau berjuta orang yang seperti mereka. Mereka harus diperlakukan sebagai anomali dalam distribusi kejadian, mereka bukanlah modus yang dapat sebagai pernyataan korelasional.
Perbandingan data statistik negara maju dengan negara berkembang. Negara-negara maju memiliki prosentase sarjana yang lebih tinggi dibandingkan negara berkembang. Jumlah Phd Indonesia ini sangat kecil dibanding negara-negara tetangga kita. Yang dikhawatirkan adalah karena selama ini lebih banyak yang menggunakan analogi atau argumentasi anomali dalam menjawab tantangan karier. Sehingga seseorang akan sangat terpacu oleh anomali-anomali dalam mengejar karier. Padahal dirinya bukanlah anomali. Dirinya bukanlah Bill Gates, dirinya bukanlah Purdi E Chandra, dirinya hanyalah ordinary people. Jumlah doktor di China sampai akhir 2001 adalah 78.000 orang dan pada tahun 2002 sebanyak 37.000 calon doktor sudah mulai belajar, sehingga betul bahwa menurut perkiraan, tahun 2010 jumlah doktor di China akan melebihi jumlah doktor di Amerika Serikat dan Jerman, karena pada tahun 2001 saja, di Amerika Serikat jumlah doktornya hanya bertambah sebanyak 40.000. Itupun sebagian bukan merupakan warga Amerika Serikat.

Pada jenjang karier rendah-menengah, maka pendidikan (formal) merupakan hal yang sangat penting. Karena disinilah intinya “bekerja”. Dalam karier yang tinggi maka korelasi antara pendidikan dengan karier (mungkin) akan rendah karena dalam karier atau jabatan tinggi, maka bukan hanya pendidikan formal, bukan hanya ilmu dan pengetahuan saja yang diperlukan. Karena itu pendidikan dan pengalaman dalam membentuk jati diri seseorang sangat penting untuk menuju kesuksesan, dan dari itu semua yang terpenting adalah pendidikan dalam keluarga. Keluarga merupakan pondasi dasar dalam membangun sebuah negara, apabila setiap pondasi dalam rumah tangga kuat ( baik pondasi agama, pondasi keuangan, pondasi pendidikan, dll ), maka dengan sendirinya negara ini akan menjadi negara maju yang besar, dan tentunya harus disertai dengan pengelolahan negara yang baik, jujur, adil, dan benar.