Selasa, 19 Desember 2017

Pelajar Dan Narkoba

Pelajar adalah anak sekolah (terutama pada sekolah dasar dan sekolah lanjutan); anak didik; murid; siswa, yang kisaran usianya antara 7-18 tahun. Pelajar merupakan aset yang penting bagi suatu negara, karena generasi pelajar adalah bibit-bibit yang harus tumbuh dan berkembang untuk menjadi generasi emas yang dapat memajukan agama, nusa dan bangsa. Tak hanya itu, seorang pelajar yang baik seharusnya mampu menempatkan diri dengan baik pula di kalangan masyarakat, seorang pelajar yang sekaligus sebagai peserta didik, secara tidak langsung pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki juga lebih baik dibandingkan yang lain. Hal ini menuntut agar pelajar berperilaku sopan dan baik agar dapat ditiru oleh masyarakat lain yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah.

Terlebih lagi Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030 nanti, yang mana para pelajar dan anak – anak muda Indonesia sangat memiliki peran besar, dan ini menjadi tantangan apakah kita siap lepas landas menuju negara maju atau justru sebaliknya, tertimpa bencana demografi.Bonus demografi merupakan kondisi di mana populasi usia produktif lebih banyak dari usia nonproduktif. Membludaknya tenaga kerja produktif adalah peluang emas Indonesia untuk menggenjot roda ekonomi. Idealnya, pertumbuhan ekonomi terpacu, sektor riil terdongkrak, dan daya saing meningkat. Bonus demografi seyogianya membawa sebuah negara menuju arah lebih baik, khususnya membawa kesejahteraan untuk segenap warga negaranya.

Saat ini kita sedang dihadapkan dengan pekerjaan rumah yang besar, yaitu semakin maraknya generasi muda yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Data di Badan Narkotika Nasional Kota Surabaya menyebutkan, pada tahun 2015 BNN Kota Surabaya melakukan rehabilitasi terhadap 208 pelajar ( 49,89 % ) dari 417 klien, tahun 2016 BNN Kota Surabaya melakukan rehabilitasi terhadap 84 pelajar ( 23, 08 % ) dari 364 klien, dan Sejak Januari 2017 – 12 Desember 2017 BNN Kota Surabaya telah melakukan rehabilitasi terhadap 118 pelajar ( 39,86 % ) dari 296 klien. Dan ini menjadi ancaman yang sangat serius, dikarenakan penyalahgunaan narkoba mengakibatkan kerusakan pada system saraf otak secara permanen. Dimana akhir dari penyalahgunanya mengakibatkan gangguan mental dan perilaku.


Sementara proses perkembangan otak di usia sekolah terus berlangsung dan sebenarnya merupakan bagian dari proses perkembangan hingga dewasa. Pada tahapan ini hubungan antarsaraf, atau dikenal sebagai ‘grey matter’ yaitu proses menyambungkan bagian-bagian otak terus berlangsung dan di perkuat.  Jaringan lemak yang menyelimuti sel saraf atau sering disebut sebagai ‘white matter’ bertambah banyak, sehingga terjadi percepatan penyampaian sinyal yang berarti otak bekerja sangat baik untuk mengontrol sistem tubuh, dan hubungan antara sel saraf menjadi stabil.Pada tahapan ini, bagian yang paling terakhir mencapai kematangan adalah Prefrontal cortex. Bagian otak ini berfungsi mengendalikan gerakan-gerakan, juga pengambilan keputusan. Tak heran jika banyak remaja terlihat sulit mengendalikan tubuh mereka. Sesungguhnya fase perkembangan usia ini berlangsung hingga seseorang mencapai usia 22 tahun. Pada usia tersebut, otak akan mencapai performa terbaik, dalam fungsi dan respons. Apabila di usia – usia tersebut otak yang masih berkembang dan membutuhkan banyak nutrisi dirusak oleh narkoba, maka bisa kita bayangkan akan kehancuran generasi – generasi muda kita. Apabila masalah ini tidak segera kita selesaikan secara bersama – sama, maka pada tahun 2030 bukan puncak bonus demografi yang kita dapatkan, melainkan musibah besar yang akan kita hadapi.

Secara garis besar ada 2 faktor pemicu seorang pelajar terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba, yaitu: Faktor Demand ( Permintaan ) dan Supply ( Ketersediaan barang ).Faktor demand ini terjadi mana kala seorang pelajar salah dalam memilih pergaulan, kurangnya perhatian dari kedua orang tua maupun keluarga, masalah keluarga yang tengah dihadapi, untuk mendapatkan pengakuan dari kelompoknya, kurangnya wawasan atau pengetahuan tentang bahaya narkoba, dan masih banyak faktor lingkungan sosial lainnya yang mempengaruhi meningkatnya faktor demand ini. Sementara untuk faktor supply disebabkan karena banyaknya para mafia narkoba yang sengaja menyerang Indonesia, sehingga jenis dan varian narkoba pun beraneka ragam. Dan ini merupakan suatu proxy war, yaitu: perang dengan menggunakan kekuatan pihak ketiga, yang tidak lain adalah narkoba itu sendiri. Kejahatan narkoba ini merupakan suatu kejahatan dengan system pelemahan sumber daya manusia. Dan itu yang harus kita sadari dan harus kita perangi secara bersama – sama.

Karena itu kami mengajak kepada seluruh orang tua dan seluruh komponen masyarakat yang ada, untuk bisa lebih peduli lagi terhadap anak – anak kita. Karenaanak adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan keberlangsungan sebuah bangsa dan negara. Dalam konstitusi Indonesia, anak memiliki peran strategis yang secara tegas dinyatakan bahwa negara menjamin hak setiap anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta atas pelindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Oleh karena itu, kepentingan terbaik bagi anak patut dihayati sebagai kepentingan terbaik bagi kelangsungan hidup umat manusia. Konsekuensi dari ketentuan Pasal 28B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu ditindaklanjuti dengan membuat kebijakan pemerintah yang bertujuan melindungi anak. Anak perlu mendapat pelindungan dari dampak negatif perkembangan pembangunan yang cepat, arus globalisasi di bidang komunikasi dan informasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perubahan gaya dan cara hidup sebagian orang tua yang telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap nilai dan perilaku anak.